Walaupan ada aturan komposisi, ada kalanya-saatnya kita melawan aturan itu. . . . . ."untuk mendapatkan gambar yang lebih baik-bagus. . . . . . Seandainya saja ada bagian dari subjek yang di potret terpotong, misalnya kuping atau tangan. . . . . . Jangan pernah mengkoreksi-menyempurnakan bagian yang terpotong. . . . . Hanya membuang waktu saja dan tak akan maximal hasilnya. . . . . Lebih baik lakukan crooping saja sekalian, lebih ketat-press akan lebih dramatis hasilnya. . . .
Dan saat kita akan memotret tentunya sudah mengatur segalanya. . . . . . Mulai dari diafragma, pilihan lensa, sampai detail yang akan masuk frame. . . . . . . Tapi, terkadang setah melihat hasilnya, ada saja yang kurang sempurna. . . . . Entah ada saja bagian subjek utama yang ternyata tidak bagus, atau ada elemen yang menggangu di latar belakang. . . . . . Di era-zaman masih memakai film hal-hal tersebut sangatlah susah untuk menghilangkanya. . . . . . . Namun berbahagialah-bersenanglah di era-zaman digital saat ini lebih mudah untuk mengatasi hal-hal tersebut, dengan mengcoping, mestamp, dan lain-lain dengan sangat mudah dan efektif. . . . . . .
Untuk menciptakan serangkaian nada warna yang menawan nan indah, haruslah memastikan jumlah cahaya yang optimal sampai ke sensor. . . . . . Hal tersebut dapat diperoleh dengan mengatur eksposur (kecpatan rana) dan intensitas cahaya (bukan diafragma/apture pada lensa). . . . . Dan perlu diingat bahwasannya secanggih apa pun sistem metering tidak bakal mammpu memahami yang sebenarnya cahaya yang dilihat oleh kamera, atau pun yang di kehendaki si photographer. . . . . Disinilah persan sang photographer untuk mengatur dan mengendalikanya. . . . Bukan aturan yang mengendalikan!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar